Belajar dari Ismail dan Daisuke Nakanishi

Ismail, pemuda kelahiran Indramayu – Jawa Barat berusia 40 tahun. Daisuke, sarjana ekonomi lulusan Osaka University. Keduanya tak jauh berbeda, sama-sama pemimpi dan pedjoeang yang tangguh dalam mewujudkan mimpinya. Saya belajar banyak dari mereka. Meski baru sempat membaca kisahnya lewat media (belum pernah ketemu langsung), tapi kisah perdjoeangan mereka benar-benar memberikan inspirasi yang sangat berharga. Ah… saya jadi terbakar nih… ingin seperti mereka berdua yang telah berhasil mewujudkan impian-impiannya…

——————————–
ismail-penjelajah-sepedaIsmail (kanan), penjelajah Indonesia asal Indramayu, Jawa Barat, bersama anggota klub sepeda onthel Kota Jambi, Didin, di Jambi, baru-baru ini.

Penampilannya penuh percaya diri. Tak ada rasa sungkan berhadapan dengan orang-orang yang baru dikenal. Tebaran senyum dan gaya bicaranya pun bersahabat. Berbicara dengannya seperti bertemu kembali dengan sahabat karib yang sudah lama tak bersua.

Begitulah gaya Ismail (40), penjelajah Indonesia warga Indramayu, Jawa Barat ketika bertemu wartawan di pelataran parkir kantor Gubernur Jambi, Selasa (28/7). Kendati bertemu wartawan secara kebetulan dan dia tergesa-gesa untuk bertemu Gubernur Jambi, H Zulkifli Nurdin, dia tetap melayani perbincangan dengan wartawan seperti kawan sendiri.

Nggak apa-apa ngobrol sebentar. Biasa, berbagi pengalaman,” katanya. Tanpa banyak ditanya wartawan, Ismail pun secara spontan mengisahkan ihwal penjelajahan Indonesia yang dilakoninya.

Kematangan pengalaman bertemu dengan banyak orang dan menghadapi tantangan alam dalam penjelajahan dari daerah ke daerah selama ini, menempa Ismail menjadi sosok yang fleksibel dalam segala hal. Dia tak pernah merasa asing terhadap orang-orang yang baru dijumpainya. Semua orang yang baru ditemuinya di berbagai daerah dianggapnya sebagai saudara sendiri. Rasa persaudaraan itulah yang bisa memuluskan perjalanan Ismail menjelajah Indonesia selama 11 tahun.

Saya tidak pernah melihat perbedaan antara saya dan orang-orang yang saya temui di berbagai daerah. Semua saya anggap saudara dan sahabat. Persahabatan dan persaudaraan itu menjadi modal bagi saya menelusuri seluruh pelosok nusantara ini,” paparnya.

Ismail mengatakan, salah satu pihak yang banyak membantu penjelajahannya ialah klub motor dan sepeda. Selama berada di Kota Jambi, dia dibantu kelompok sepeda onthel Kota Jambi. Bantuan yang dia peroleh tidak hanya penginapan, tetapi juga petunjuk jalan, dan mempertemukannya dengan para pejabat dan profesional untuk pengumpulan tanda tangan.

Ismail mengatakan, sejak memulai penjelajahan Indonesia 20 Juni 1998, sudah hampir 197 kota, kabupaten dan provinsi yang dijelajahinya. Sedangkan, Provinsi Jambi merupakan provinsi yang ke-26 yang disinggahinya. Daerah-daerah yang dijelajahi Ismail, antara lain Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.

“Saya akan mengakhiri penjelajahan Indonesia ini di Jakarta tahun 2012. Untuk tahun 2009 – 2011, target penjelajahan saya seluruh daerah kabupaten, kota dan provinsi di Sumatera. Hingga Juli ini, baru beberapa daerah Sumatera yang saya kunjungi, seperti Lubuk Linggau, Provinsi Lampung, Sarolangun dan Kota Jambi, Provinsi Jambi,” kata anak ketiga dari lima bersaudara ini.

Menjadi penjelajah Indonesia bagi Ismail bukan sekadar ikut-ikutan. Dia bercita-cita menjadi penjelajah Indonesia sejak kelas IV SD untuk mengukir nama di Guinnes Book of Records. Dia juga ingin menjadi pengumpul tanda tangan pejabat dan profesional terbanyak di dunia.

“Sampai saat ini sudah 153 buku harian saya berisi tanda tangan serta pesan pejabat dan orang-orang profesional dari seluruh nusantara ini. Jumlah tanda tangan ini akan terus saya kumpulkan hingga menjadi yang terbanyak di dunia,” katanya.

Misi

Salah satu misi mulia yang diemban Ismail dalam penjelajahan Indonesia, yakni menunjukkan bahwa Indonesia tetap satu walau berbeda-beda adat, suku, agama, dan daerah. Ismail merasakan perlu mengemban misi kesatuan dan persaudaraan masyarakat Indonesia yang berbeda-beda itu karena melihat adanya kerapuhan dalam ikatan persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia akhir-akhir ini.

Dari pengalaman penjelajahan ke berbagai daerah selama ini, Ismail merasakan bahwa pada dasarnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia itu masih cukup kental asalkan sesama warga mau menunjukkan solidaritas sosial, saling berbagi, saling memberi, dan saling menolong.

“Ini saya rasakan dari pertemuan dengan warga Indonesia di berbagai daerah. Kendati saya datang dari Jawa Barat, saya tetap dianggap saudara dan mendapat bantuan dari saudara-saudara saya di Papua, Sulawesi, Bali, Maluku, Kalimantan, Sumatera, Aceh, dan daerah lain. Sepeda yang saya pakai sekarang bantuan saudara dari Aceh,” katanya.

Penjelajahan Ismail selama ini tidak selalu mulus. Banyak tantangan dan pertaruhan nyawa yang harus dilalui. Ketika singgah di Timor Timur (Timtim) pascakonflik atau kemerdekaan Timtim tahun 1999, dia sempat disandera. Ismail dituduh sebagai mata-mata Indonesia karena tidak memiliki izin masuk ke Timtim yang baru merdeka. Ketika itu, Ismail menganggap Timtim masih bagian dari Indonesia. Namun, setelah menjelaskan bahwa dia penjelajah Indonesia, pihak keamanan Timtim pun membebaskannya.

Kemudian Ismail juga pernah ditangkap dan dihukum adat oleh Suku Dani di Jayawijaya, Papua. Dia direndam di air beberapa jam hanya karena menabrak seekor babi. Pengalaman Ismail yang paling mengancam nyawa ketika terdampar di kepulauan Maluku. Dia terancam tidak makan dan tidak bisa kembali keluar dari pulau. Namun, warga setempat menyelamatkannya.

Pengalaman serupa dialaminya ketika menjelajah wilayah Kalimantan. Dia kesasar masuk wilayah hutan Malaysia. “Ketika itu, satu bulan saya tidak ketemu manusia. Makan dari buah dan akar pohon. Untung saya diselamatkan polisi hutan Malaysia,” katanya.

Ancaman maut tidak hanya dihadapi Ismail di daerah-daerah rawan, seperti Timtim, Papua, Maluku, dan Kalimantan. Ismail juga menghadapi ancaman maut di Sumatera. Selama menjelajah daerah-daerah di Sumatera, khususnya Lubuk Linggau, Provinsi Lampung hingga Sarolangun, Provinsi Jambi, Ismail sudah lima kali bertemu harimau. Namun, hanya sekali dia diserang harimau.

“Saya sekali dicakar harimau di batas Lubuk Linggau-Sarolangun, Mei lalu. Cakaran harimau melukai paha kanan saya sekitar 15 sentimeter. Tidak tahu kenapa, setelah mencakar, harimau tersebut pergi. Mungkin harimau itu tahu saya tidak berniat jahat, sehingga dia tidak berniat memangsa saya,” katanya.

Betapa berat tantangan yang masih akan dihadapinya, penjelajahan Indonesia yang kini dilakoninya akan tetap dilanjutkan. [SP/Radesman Saragih]

sumber : SuaraPembaruan

————————

Jika pada hari-hari ini Anda melintas di jalan-jalan di Pulau Jawa, ada kemungkinan Anda bertemu dengan seorang warga negara Jepang yang mengendarai sepeda.  Jangan ragu untuk menyapa dia karena Daisuke pasti senang berkenalan dan memperoleh dukungan Anda.

Oleh

J. WASKITA UTAMA

Sosok Daisuke Nakanishi, begitu nama lengkapnya, tak sulit dikenali.  Tubuhnya langsing dan liat dengan warna kulit lebih gelap dibandingkan umumnya orang Asia Timur.  Topi tak pernah lepas dari kepala, melindungi wajahnya yang mulai dimakan usia dari terpaan sinar matahari.  Namun, ciri paling jelas untuk mengenalinya adalah setengah lusin tas yang bertumpuk dan terikat bergelantungan di sepedanya.

Daisuke Nakanishi

Berbekal sepeda itu, Daisuke mewujudkan impiannya mengelilingi dunia.  Sejak meninggalkan Osaka, 23 Juli 1998, Daisuke mengayuh sepedanya melewati pengunungan bersalju dan gurun tandus, melintasi batas negara dan benua.  Tak hanya sekali, sarjana ekonomi lulusan Universitas Osaka ini telah dua kali mengelilingi bumi.

Indonesia adalah negara ke-125 yang disinggahi Daisuke.  Saat mendarat di Jakarta, Jumat (24/4), setelah menempuh perjalanan laut selama 27 jam dari Batam, alat pengukur jarak di sepedanya menunjukkan angka 144.165 kilometer.

Sejauh itu pula dia mengayuh sepedanya selama hampir 11 tahun.  Selama itu, hanya tiga kali Daisuke pulang ke Jepang.  ”Ketiganya karena berurusan dengan bank, ” ujarnya.

Buat sebagian orang, yang dilakukan Daisuke adalah ulah orang kurang kerjaan yang mencari sensasi.  Tetapi, Daisuke punya alasan sendiri menjalani pilihan hidup yang tidak biasa ini.

“Saya suka naik sepeda.  Saya senang bertemu orang dan mengenal kebudayaan mereka.  Saya bermimpi untuk memiliki satu juta teman di seluruh dunia.  Itulah yang saya jalani sampai sekarang, ” ujarnya.

Mencari teman

Misi yang dibawa Daisuke pun sederhana, yaitu mencari teman sebanyak-banyaknya.Untuk mewujudkan itu, tak jarang dia harus berhadapan dengan situasi sulit yang mengancam jiwanya.

Di kenya, misalnya, Daisuke terserang penyakit malaria.  Beruntung, saat dia terbaring sendirian, pertolongan medis datang tepat waktu.  Pada lain kesempatan, di dataran tinggi Patagonia, Amerika Selatan, Daisuke harus bertahan menghadapi embusan angin dingin yang membekukan.

Namun, pengalaman yang paling menakutkan dialamaninya adalah saat berkemah di tengah padang gurun di Namibia.  Dua heyna berkeliaran di luar tendanya dan baru menyingkir sekitar dua jam kemudian.

“Penduduk setempat bercerita, heyna bisa membunuh manusia.  Saya takut setengah mati dan hanya bisa duduk terpaku.  Senjata saya hanya sebilah pisau kecil yang biasa saya pakai untuk memasak.  Malam itu saya tak bisa tidur,” katanya.

Beberapa kali Daisuke juga kehilangan miliknya karena dicuri orang, termasuk kehilangan sandal di kapal dalam pelayaran menuju Jakarta.  ”Someone stole my sandals on the boat,” tulisnya dalam situs daisukebike.be.

Semua pengalaman unik itu berawal dari kesukaan Daisuke pada sepeda.  Lahir di Kawanishi, kota kecil dekat Osaka, 6 Maret 1970, Daisuke belajar naik sepeda pada usia 10 tahun.  Didorong sang ayah, Ikuo Nakanishi, Daisuke mulai bersepeda bersama kakak laki-lakinya hingga Kyoto atau Nara.

Kegemaran ini berlanjut pada masa kuliah.  Dia bergabung pada klub sepeda di universitas dan kerap berkeliling Jepang.  Tahun 1990, Daisuke untuk pertama kali bersepeda di luar negeri, dari Los Angeles ke New York, AS, selama 48 hari.

Dalam perjalanan itu, panas terik di tengah Gurun Mojave membuat Daisuke kelelahan dan kehilangan kesadaran.  Beruntung, seorang pria yang hanya dikenalnya sebagai Mr. Don melintas dan memberinya minum.  Keramahan orang-orang yang ditemuinya di jalan membuat Daisuke ketagihan.  Dia pun membuat empat ekspedisi lain mengunjungi 19 negara dan memancang targetnya mengelilingi dunia.

Selepas kuliah tahun 1992, Daisuke bekerja di perusahaan konstruksi selama enam tahun.  Setelah berhasil mengumpulkan 50.000 dollar AS dan memesan sebuah sepeda touring, dia meninggalkan Jepang menuju Anchorage, Alaska, untuk memulai perjalanan.

Dimulai dari Alaska

Dari Alaska, Daisuke bersepeda ke selatan hingga Peru, kemudian terbang ke Swedia untuk berkeliling Eropa Barat.  Dia melanjutkan perjalanan sampai Afrika Selatan, lalu terbang ke Thailand, Australia, dan Selandia Baru, sebelum kembali ke Amerika Selatan.

Kali ini Daisuke menetap cukup lama dan mengeksplorasi Amerika Selatan selama empat tahun sehingga membuat dia fasih berbahasa Spanyol.  Dari sini dia kembali ke pantai timur AS, disusul Eropa Timur, Afrika Utara, Timur Tengah, India, dan Asia Tenggara.

Daisuke mengaku bukan perencana yang baik, tetapi selalu menyusun rencana untuk perjalanannya.  Rencana perjalanan disusun bermodalkan peta, masukan dari sesama pengeliling dunia, atau warga setempat.

Misi yang sederhana membuat Daisuke tak terlalu berambisi bertemu para pejabat dan orang penting dalam perjalanannya.  Namun, dengan bantuan para sahabat baru yang ditemuinya di jalan, dia bisa bertemu sejumlah tokoh, seperti pendaki pertama Everest, Sir Edmund Hillary di Selandia Baru, legenda sepak bola Pele di Brasil, mantan Presiden AS Jimmy Carter, pelari maraton ternama Haile Gebrselassie di Etiopia, dan mantan Presiden Polandia Lech Walesa.

Pilihan Daisuke untuk mengelilingi dunia dengan sepeda bukannya tak mendapat tantangan keluarga.  Meski mendukung kegemaran anaknya bersepeda, Ikuo kerap meminta Dasiuke pulang dan menetap di Jepang.

“Ayah bekerja 40 tahun di perusahaan yang sama, jadi mengelilingi dunia dengan sepeda dianggapnya terlalu berisiko.  Saya memang tak punya rumah, pekerjaan, dan keluarga.  Tetapi inilah impian saya dan saya bisa mewujudkannya.  Ini cara saya menjalani hidup.  Akhirnya, dia bisa juga menerima,” ujar Daisuke.

Dengan kerja keras dan pengorbanan, Daisuke mampu mewujudkan mimpinya.  ”Saya kasihan pada orang yang hanya sekadar menjalani hidup dan tak punya mimpi.  Hidup hanya satu kali dan itu harus dimanfaatkan dengan baik,” ujarnya.

Meski demikian, selalu ada akhir untuk semuanya.  Setelah bersepeda menuju Yogyakarta dan Bali, Daisuke berencana mengunjungi beberapa negara Asia Tenggara lain, seperti Filipida, Myanmar, dan Laos sebelum mengakhiri perjalanannya tahun ini.

“Bekal saya sudah menipis.  Lagi pula, akhir tahun ini ada peringatan 30 tahun Kelompok Petualang Bersepeda Jepang dan mereka meminta saya hadir,” ujarnya.

Setelah impiannya terwujud, apa rencana Daisuke berikurnya?

“Saya belum tahu.  Mungkin menulis buku tentang perjalanan ini atau membuat pameran foto yang saya kumpulkan.  Tetapi yang pasti saya harus mencari kerja.  Setelah itu, mungkin membuat mimpi yang baru,” ujarnya.

GBU Daisuke

Gambatte kudasai!

- [APWS] -

1 people like this post.
Link To This Post
1. Click inside the codebox
2. Right-Click then Copy
3. Paste the HTML code into your webpage
codebox
powered by Linkubaitor

Leave a Reply

HITS
View My Stats

Salman Salsabila, anak kedua dari sembilan bersaudara. Lahir di Cirebon, 25 September 1989. Menyelesaikan pendidikan SD, SMP dan SMA di Serang, Banten. Pernah mengikuti karate dan PMR di SMP N 4 Serang. Menjadi ketua RISMA SMAN 1 Serang periode 2004-2005 dan Ketua Umum KAPMI Daerah Banten periode 2005-2006. Beberapa kali mewakili SMA N 1 Serang meraih juara di perlombaan tingkat Kabupaten, Provinsi dan Nasional. Kini, sebagai mahasiswa tingkat 4 Fasilkom UI. Menjadi salah seorang peraih Beastudi Etos, Dompet Dhuafa Republika. Bekerja part-time sebagai asisten lab robotika, pembimbing privat komputer dan asisten menulis buku. Bersama tim pedjoeang, 3-8 Juli lalu mewakili Indonesia sebagai 5 finalis Design For Development Award dalam ajang Imagine Cup Worldwide Student Technology Competition di Kairo, Mesir.
Profil Lengkap

Kirim Pesan YM



    ShoutMix chat widget